bangga dan bersyukurlah terhadap apa yang ada di dalam dirimu karena semua itu adalah karunia dariNYA... ubah rasa iri itu menjadi pemantik semangat untuk meraih mimpimu...
Rabu, 08 Desember 2010
Oleh : Milson Febriyadi (0906630670)
Sejalan dengan pembangunan ekonomi, urbanisasi perkotaan saat ini semakin menjadi isiu penting dalam dinamika perekonomian sebuah negara. Nmaun demikian, urbanisasi turut menciptakan masalah di dalam proses pembangunan di Indonesia. Berbagai persoalan sosial, kultural, dan ekonomi tentunya, muncul dalam beberapa dekade terakhir baik di daerah perkotaan dan daerah pedesaan yang notabene menjadi komponen mendasar proses urbanisasi. Beberapa pertanyaan awal berikut diharapkan dapat membantu untuk mempermudah arah pemikiran guna mendapatkan esensi permasalan dan solusi atas persoalan urbanisasi di Indonesia.
1. Apakah arti sebenarnya urbanisasi? benarkah urbanisasi dipandang sebagai suatu proses perpindahan penduduk daerah pedesaan menuju perkotaan?
2. Bagaimanakah penjelasan urbanisasi dalam proses pembangunan sebuah negara (Indonesia) ?
3. Apakah formulasi sederhana atas indikator – indikator yang melatarbelakangi proses urbanisasi?
4. Apakah solusi alternatif yang bisa dilakukan pemerintah guna mengakomodasi proses urbanisasi?
Urbanisasi bukanlah semata – mata perpindahan masyarakat pedesaan menuju perkotaan, lebih dari itu urbanisasi merupakan tingkat presentase masyarakat yang tinggal di perkotaan terhadap jumlah seluruh masyarakat di suatu wilayah tertentu. Oleh karena itu, perpindahan masyarakat pedesaan menuju perkotaan hanyalah salah satu sebab urbanisasi. Dalam beberapa dekade terakhir di Indonesia, tingkat migrasi masyarakat pedesaan menuju daerah perkotaan semakin meningkat seiring dengan berkembangnya pola pembangunan ekonomi kota. Hal ini didukung dengan data laju penduduk menurut provinsi di Indonesia dalam lebih tiga dekade terakhir.
No Provinsi Periode
1970 - 1980 1980-1990 1990-2000 2000-2005
1 DKI Jakarta 3.93 2.38 0.17 1.2
2 NTB 2.36 2.14 1.82 0.86
3 Bali 1.69 1.18 1.31 1.46
4 Sulawesi Utara 2.31 1.6 1.33 1.25
5 Kalimantan Tengah3.43 3.88 2.99 0.63
6 Sumatera Barat 2.21 1.62 0.63 1.49
7 Jawa Tengah 1.64 1.17 0.94 0.48
8 Maluku 2.88 2.76 0.08 1.6
Sumber : sensus penduduk 1971, 1980, 1990, 2000 dan supas 2005
Ada dua aspek dalam hal proses urbanisasi. Yang pertama merupakan urbanisasi itu sendiri dan yang kedua adalah konsentrasi urban dimana terjadi pemusatan dalam alokasi sumber daya di kota - kota tertentu dalam sebuah negara.
Dari data di atas, kita dapat melihat bahwa di beberapa kota yang menjadi daerah konsentrasi pembangunan seperti DKI Jakarta dan Bali, kecenderungan laju penduduk meningkat yang disebabkan oleh tingkat migrasi dan mobilitas penduduk dari daerah pedesaan sebagai akibat dari merendahnya tingkat pertumbuhan alamiah di daerah perkotaan, kuatnya kebijakan ekonomi dan pembangunan oleh pemerintah yang “urban bias”, dan lambatnya transformasi daerah pedesaan menjadi perkotaan.
Secara khusus, transformasi struktural sebuah negara dari rural agriculture economy menjadi industrial-service economy sebagai sebuah bentuk pertumbuhan dan pembangunan ekonomi yang biasa terjadi di negara - negara berkembang turut melibatkan aktivitas urbanisasi. Oleh karena itu, bisa dikatakan, sebuah pembangunan ekonomi yang diupayakan oleh sebuah negara memiliki korelasi positif dengan tingkat urbanisasi negara tersebut
Urbanisasi, menurut Bintarto, menyumbang implikasi di berbagai sektor kehidupan. Di sektor ekonomi, urbanisasi akan menjadikan struktur ekonomi menjadi lebih bervariasi dalam aktivitas perdagangan dan jasa, transportasi, industrialisasi, baik formal maupun informal.
Migrasi dan Urbanisasi
Sejak 1970, Indonesia telah memulai perkembangan pembangunan dengan proses migrasi penduduknya. Migrasi tersebut sengaja dilakukan oleh pemerintah dengan tujuan percepatatan urbanisasi dalam upaya pembangunan. Migrasi tersebut terpolarisasi ke Pulau Jawa karena arah dan tujuan pembangunan dipusatkan di Pulau Jawa. Ini dibuktikan dengan angka migrasi netto Pulau Jawa yang secara kontinyu terus bernilai positif.
Harus dipahami bahwa tenaga kerja adalah penyedia jasa bagi proses pembangunan. Artinya, kebijakan pembangunan yang dijalankan pemerintah akan ditindaklanjuti dengan aktivitas tenaga kerja, dengan implementasi di lapangan berupa laju migrasi penduduk dari daerah pedesaan menuju wilayah kota. Sayangnya, untuk kasus di Indonesia, polarisasi pembangunan yang terpusat di pulau Jawa telah menunjukan adanya ketidakseimbangan pembangunan antarwilayah yang pada akhirnya justru menimbulkan berbagai persoalan hingga saat ini.
Umumnya, mereka yang bermigrasi ke Pulau Jawa sebagian besar bekerja di sektor informal. Karakteristik migran ini adalah tidak memiliki keahlian yang khusus, berpendidikan rendah, dan tidak memiliki akses untuk bergerak di pasar modal. Efek dari semua itu adalah rendahnya produktivitas dan penghasilan yang mereka dapat dibandingkan sektor formal.
Lebih dari itu, akomodasi untuk meningkatkan upah minimum di daerah perkotaan pada titik yang lebih tinggi dibandingkan upah rata – rata wilayah pedesaan nyatanya telah menstimulasi migrasi desa – kota. Akomodasi itu terjadi sebagai efek dari keinginan para pelaku ekonomi yang cenderung ingin berinvestasi di tempat yang telah memiliki fasilitas dan infrastruktur lengkap dalam rangka penghematan biaya sehingga pada akhirnya akan memunculkan migrasi tenaga kerja ke daerah dengan tingkat urbanisasi tinggi.
Di akhir pembahasan topik tulisan ini, mari kita pahami bersama bahwa sebenarnya urbanisasi itu adalah sebuah proses alamiah sejalan dengan pembangunan ekonomi sebuah negara. Akan tetapi, urbanisasi tetap harus diarahkan terlebih di negara yang memiliki karakteristik seperti Indonesia. Wilayah – wilayah di Indonesia memiliki ciri khas tersendiri yang satu sama lainnya berbeda dan sangat berpotensial untuk dikembangkan.
Semakin tinggi urbanisasi, semakin tinggi pula tingkat pertumbuhan ekonomi negara tersebut. Ada beberapa usaha yang bisa dilakukan dalam pengarahan urbanisasi yang bisa memberikan manfaat bagi masyarakat Indonesia.
Konsep pengarahan urbanisasi pertama adalah dengan mengembangkan wilayah pedesaan agar memiliki ciri – ciri seperti daerah perkotaan. Tentu ciri – ciri tersebut berkaitan dengan kajian aksesibilitas masyarakat terhadap infrastruktur – infrastruktur dasar seperti jaringan listrik, air bersih, sekolah, pasar, jalan raya, serta jaringan transportasi yang memadai. Ketika biaya transportasi bisa ditekan bagi daerah – daerah pedesaan tersebut, akses untuk mendirikan usaha akan lebih mudah karena hambatan jarak dengan sumber daya bahan mentah akan hilang. Yang artinya, alokasi pendayagunaan sumberdaya ini menjadi lebih efektif dan industri pun mendapatkan manfaat besar dari pola pengembangan daerah pedesaan.
Berbagai infrastruktur penopang aktivitas ekonomi pedesaan itu memang diperlukan, namun hal itu juga perlu diselaraskan dengan lingkungan alam pedesaan yang bernuansa alami sehingga pembangunan infrastruktur tersebut tidak berefek negatif pada lingkungan setempat. Kesemua itu
membutuhkan biaya memang, dan untuk itu otonomi daerah menjadi salah satu sarana yang bisa dilakukan pemerintah daerah untuk bisa lebih mandiri mengusahakan pembangunan daerahnya dengan tentu berkoordinasi dengan pemerintah pusat.
Pengembangan usaha masyarakat daerah pun perlu diberdayakan supaya produksi barang dan jasa memiliki nilai tambah sehingga usaha tersebut memiliki daya saing dengan produk impor. Para petani padi perlu diberdayakan supaya bisa memiliki inti usaha pengolahan gabah sehingga bisa berujung dengan hasil olahan beras siap jual, para nelayan juga perlu diupayakan untuk membentuk inti usaha pengolahan ikan sehingga mampu meningkatkan produktivitasnya.
Lebih dari itu, pengembangan sektor usaha informal yang menyerap tenaga kerja sangat besar dalam karakteristik aktivitas ekonomi Indonesia yang umumnya bergerak pada sektor industri menengah dan kecil harus mendapat prioritas dalam pengembangan sektor usaha. Perlu dicatat, usaha kecil dan menengah menjadi sumber kehidupan bagi sekitar 150 juta rakyat Indonesia.
Potensi ekonomi yang dimiliki berbagai wilayah di Indonesia sangat beraneka ragam. Sektor pertanian, perkebunan, industri manufaktur, pariwisata, pertambangan, transportasi, perikanan dan peternakan, menjadi sebuah karakter bagi masing – masing wilayah dan itu semua perlu dikembangkan secara berkesinambungan dengan didukung dengan inovasi yang sinergis dengan budaya lokal.
Sasaran dari upaya itu semua adalah agar ketidakseimbangan dalam kesempatan untuk mengakses aktivitas ekonomi masyarakat jawa dan non-jawa menjadi berkurang.
Kesimpulan
Urbanisasi bukanlah masalah dalam proses pertumbuhan dan pembangunan sebuah negara. Indonesia telah mengupayakan hal ini sejak tahun 1967 dengan adanya kebijakan substitusi impor dan investasi asing dalam sektor manufaktur. Sayangnya, kebijakan tersebut nyatanya berakibat polarisasi pembangunan yang hanya dipusatkan di Jakarta sehingga kecenderungan urbanisasi di daerah utara pulau Jawa semakin cepat sementara hambatan dalam pengembangan ekspor kayu dari daerah di luar pulau Jawa terjadi yang berakibat pada gangguan pertumbuhan ekonomi daerah – daerah tersebut.
Mekanisasi sektor pertanian pada awal 1980-an menyebabkan terjadinya penurunan tenaga kerja yang dapat di serap di sektor tersebut yang berimbas pada migrasi desa – kota di DKI Jakarta dan pesisir utara pulau Jawa. Urbanisasi pun meningkat secara signifikan akibat transmigrasi besar – besaran menuju DKI Jakarta dan Jawa Barat.
Pemerintah melihat hal ini sebagai sinyal negatif sehingga pengembangan Kawasan Timur Indonesia dengan peningkatan investasi pemerintah dan swasta dilakukan. Tercatat peningkatan alokasi investasi dari 26% di tahun 1993 menjadi 27,6% di tahun 1998 dari total investasi pemerintah dalam kurun waktu tersebut serta peningkatan dari 14% menjadi 15,3% dari total investasi swasta dalam kurun waktu yang sama.
Migrasi penduduk di Indonesia cenderung menggambarkan pola pengembangan sumber daya manusia yang belum merata. Mereka yang pindah ke pulau Jawa umumnya adalah tenga kerja terdidik, sebaliknya mereka yang pindah ke luar pulau Jawa umumnya merupakan tenaga kerja belum terdidik. Hal ini berakibat pada ketimpangan dalam pemusatan aktivitas ekonomi di Indonesia.
Terbukti, gejolak politik dan keamanan di beberapa daerah di Indonesia seperti di Ambon dan Maluku tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap aktivitas perekonomian di Indonesia. Berbeda apabila situasi keamanan yang menjadi permasalahan tadi terjadi di Jakarta semisal imbas dari gerakan terorisme yang menyerang Jakarta beberapa tahun terakhir yang mampu mempengaruhi kepercayaan publik dalam hal aktivitas perekonomian Indonesia.
Sudah seharusnya, Indonesia mempersiapkan diri dalam globalisasi dengan mengembangkan daerah – daerah potensial lainnya di luar pulau Jawa agar pemerataan proses urbanisasi di seluruh wilayah Indonesia yang menjadi tujuan akhir bisa dicapai.
Daftar Pustaka
Henderson, Vernon. (2002). Urbanization in Developing countries. The World Bank Research Observer, Vol. 17, No.1 (Spring, 2002), pp. 89 – 112.
Henderson, Vernon. (2003). The Urbanization Procees and Economic Groeth: The So-What Question. Journal of Economic Growth, Vol 8, No. 1 ( Mar, 2003), pp. 47 – 71.
Muljana, B.S. (2009). Suatu Alternatif Perencanaan Pembangunan Ekonomi (Suatu Pemikiran). Depok: Departemen Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
Roberts, Bryan R. (1989). Migration and Development. Sociological Forum, Vol 4, No. 4, Special Issue: Comparative National Development: Theory and Facts for the 1990s (Dec, 1989), pp. 665 – 691
Setiadi, Hafid dan Rudy P. Tambunan. Tanpa tahun. Urbanization and Urban Environment Quality in Jakarta. Department of Geography Faculty of Mathematics and Science University of Indonesia.
Setiadi, Hafid. Tanpa tahun. Politik Ekonomi, Pasar Tenaga Kerja, dan Dinamika Urbanisasi. Departemen Geografi FMIPA-Universitas Indonesia.
Swasono, Sri-Edi. (2005). Kebersamaan dan Asas Kekeluargaan. Jakarta: UNJ Press.
Tjiptoherijanto, Prijono. (2007). Urbanisasi, Mobilitas dan Perkembangan Perkotaan di Indonesia: http://robbyalexandersirait.wordpress.com/, 11 Nov 2010.
Tjiptoherijanto, Prijono. (2000). Mobilitas penduduk dan Pembangunan Ekonomi. Naskah No.20 Juni- Juli 2000.
Todaro, Michel P. dan Stephen C. Smith. (2006). Economic Development, Ninth Edition. United Kingdom: Pearson Educational Limited.
Selasa, 07 Desember 2010
Seorang berkisah tentang pengorbanan ibunya. Aku lahir dalam keluarga miskin yang seringkali kekurangan makanan. Ibu mengetahui bahwa aku belum kenyang sehingga ia memindahkan nasinya kepiringku dengan berkata, “ini untukmu Nak, Ibu tidak lapar.” Di sisi lain, aku mengetahui bahwa ibu belum makan dan pasti lapar.
Agar aku mendapatkan makanan bergizi, ibu selalu pergi memancing. Sepulangnya dari memancing, ia memasak sup ikan yang lezat dan memberikannya kepadaku. Aku memakannya dengan lahap, tetapi aku memperhatikan bahwa ibu mengambil tulang ikan bekas aku makan dan memakan daging ikan yang masih tersisa di tulang tersebut. Aku sedih melihat ibu kemudian dengan sumpitku, aku memberikan daging ikan kepadanya, tetapi ia berkata, “ buat Kamu saja Nak, ibu tidak suka ikan.” Ibu berkata begitu meskipun aku tahu bahwa ibu suka ikan.
Ketika aku masuk SMP, biaya yang kuperlukan semakin banyak. Untuk mendapatkan uang tambahan, ibu bekerja menempel kotak korek api. Walau sudah larut malam, aku masih melihat ibu menempel kotak korek api dengan penerangan lilin yang kecil, “Ibu tidak mengantuk?” tanyaku. “tidurlah Nak, Ibu belum mengantuk”, jawabnya. Padahal aku melihat matanya sudah hampir terpejam karena mengantuk.
Ketika aku menjalani ujian, ibu cuti dari pekerjaan untuk menemaniku pergi ujian. walau terik matahari terasa menyengat, ibu tetap menunggu diluar. Selesai ujian, ibu memberiku teh manis karena aku melihat ibu kepanasan dan haus.
Singkat cerita, setelah aku lulus S1, aku melanjutkan S2 dan bekerja di sebuah perusahaan di Amerika. Gajiku cukup besar sehingga aku bermaksud mengajak ibu tinggal bersamaku dan menikmati hidup di Amerika, tetapi ibu berkata, “aku tidak terbiasa hidup disana.” Aku tahu ibu mengatakan itu karena ia tidak mau merepotkan aku.
Diusianya yang sudah tua, ibu terkena kanker lambung dan penyakit itu membutanya tersiksa. Aku pulang dan melihatnya terbaring lemah menahan sakit. Ia memandangku dengan tatapan rindu. Aku menangis melihat penderitaan ibu, tetapi ia berkata, “jangan menangis Nak, ibu tidak merasa sakit.” Itu adalah ucapan terakhir ibu sebelum ia menutup mata dan kembali ke pangkuanNYA.
Kisah diatas adalah gambaran kasih dan pengorbanan seorang ibu. Sebagai anak, kasihi, hormati, dan balaslah budi baik ibu kita karena ia adalah kehendak Tuhan. Ibu adalah kehendaj Tuhan untuk kita. Renungkanlah sejenak apa yang sudah anda lakukan terhadap ibu anda—yang sudah membesarkan anda.
Tuhanku, bentuklah puteraku menjadi manusia yang cukup kuat untuk menyadari manakala ia lemah dan cukup berani untuk menghadapi dirinya sendiri manakala ia takut. Manusia yang memiliki rasa bangga dan keteguhan dalam kekalahan, rendah hati, dan jujur dalam kemenangan
Tuhanku bentuklah puteraku menjadi seorang yang kuat dan mengerti bahwa mengetahui dan mengenal diri sendiri adalah dasar dari segala ilmu yang benar.
Tuhanku, janganlah puteraku Kau bimbing pada jalan yang mudah dan lunak. Biarlah Kau bawa dia ke dalam gelombang dan desak kesulitan tantangan hidup. Bimbinglah puteraku supaya dia mampu tegak berdiri ditengah badai serta berwelas asih kepada mereka yang jatuh dan terpuruk.
Bentuklah puteraku menjadi manusia berhati bening dengan cita-cita setinggi langit. Seorang manusia yang sanggup memimpin dirinya sebelum dia memimpin orang lain. Seorang manusia yang mampu meraih hari depan, tetapi tak melupakan masa lampau. Setelah segala menjadi miliknya, semoga puteraku dilengakapi hati yang ringan untuk bergembira serta selalu bersungguh-sungguh namun jangan sekali-kali berlebihan.
Berikan kepadanya kerendahan hati, kesederhanaan, dan keagungan yang hakiki, pikiran yang cerah, dan terbuka bagi sumber kearifan dan kelembutan dari kekuatan yang sebenarnya sehingga aku, orang tuanya, akan berani berkata : “hidupku tidaklah sia-sia”( Douglas Mac Arthur—ditulis pada masa-masa paling sulit diawal perang pasifik—diedit dalam Ejaan Yang Disempurnakan)
Jumat, 29 Oktober 2010
ok, it's fine...... cari yang lain... hehheeh
begitu juga dengan beasiswa yang aku ajukan, aku yakin masih ada yang lebih membutuhkan dari pada aku...
Minggu, 01 Agustus 2010
Pendidikan adalah sebuah kata yang tak asing kita dengar saat ini. Sejak zaman politik etis ala Van Deventer, pendidikan, di negeri ini, mulai didengung-dengungkan. Pada saat itu pendidikan dianggap sebagai alat balas jasa atas penjajahan yang telah dilakukan di negeri yang kaya akan rempah. Entah apa arti itu etis atau tidak untuk memaknai kata pendidikan yang sesungguhnya, pendidikan tetap berkembang di Negaraku hingga saat ini. Aku ingin menggambarkan betapa hebatnya pendidikan di bangsaku dalam tulisan ini. Sebelumnya, aku ingin berterima kasih kepada para pejuang pendahulu yang telah mewarisi pendidikan kepada kita saat ini. Perjuangan mereka tidak akan pernah sebanding dengan apapun. Kembali ke hal utama dan satu hal yang sangat kontras, pendidikan terlihat sangat miris untuk kondisi saat ini. Pendidikan di Negara ini sudah tidak mengenal apa itu keadilan, kesetaraan, dan kebersamaan. Slogan yang tepat untuk pendidikan saat ini, khususnya di negeri ini, adalah “Anda Mampu? Silahkan masuk”. Slogan diatas menggambarkan betapa keadilan dibuang jauh-jauh dari makna pendidikan di negeri ini, Indonesia. ada sedikit penjelasan tentang slogan di atas agar mempermudah pembaca dalam memahami maknanya. “Anda Mampu?.....” , kata “mampu” disini bermakna sistem pembayaran operasional untuk pendidikan—kita ambil contoh Perguruan Tinggi Negeri (PTN)—sangatlah berpacu kepada uang. Mereka (penikmat pendidikan) memiliki uang dan sanggup membayar sesuai dengan ketetapan PTN yang dipilih maka mereka adalah calon terpilih. Untuk arti kata “…Silakan Masuk” , lebih mengutamakan kata masuk, kata ini bermakna setelah PTN menyeleksi dan mendapatkan calon mahasiswa yang rela membayar sesuai dengan ketetapan PTN maka dia akan menikmati proses belajar-mengajar di dalam PTN tersebut. Kembali ke hal utama, pendidikan di negeri ini sudah bertolak belakang dengan asas pendidikan dimana asas yang semestinya dijunjung tinggi dan dibela untuk kepentingan bersama. Kenapa penulis dapat mengatakan asas pendidikan sudah hilang dari makna pendidikan? banyak hal terjadi saat ini karena alasan tersebut. Penulis mengambil contoh anak yang lebih memilih bekerja daripada untuk melanjutkan pendidikannya ke Perguruan Tinggi setelah lulus dari SMA. Penulis sebelumnya meminta maaf karena tidak dapat melampirkan jumlah anak yang lebih memilih untuk bekerja daripada melanjutkan pendidikan ke Perguruan Tinggi dengan alasan dalam tulisan ini lebih menekankan alasan yang menyebabkan mereka memilih itu semua. Semua jawaban dari masalah itu terletak pada sistem pendidikan di Negara ini. Pihak yang bertanggung jawab telah lepas tangan terhadap perubahan drastis yang terjadi. Alasan apa yang menyebabkan mereka lepas tangan dari masalah ini semua.
Pertama, kondisi ekonomi Negara yang sedang mengalami resesi akibat krisis ekonomi global. Kita tidak dapat pungkiri efek dari krisis ekonomi global sangat mempengaruhi siklus ekonomi Negara ini. Entah alasan apa yang membuat ekonomi kita terkena efek itu. apa karena kita terlalu berklibat pada sistem ekonomi negeri kapitalis itu atau tidak, tak satupun ahli ekonomi kita dapat menjawabnya. Krisis ekonomi menyebabkan beberapa perusahaan mengalami depresi dalam keuangannya, bahkan pendidikan pun terkena imbasnya. Inilah yang menyebabkan banyak institusi pendidikan melepaskan diri dari tuntutan itu dan berkiblat pada mencari keuntungan semata. Hal inilah yang meyebabkan rakyat di negara ini tidak sanggup melanjutkan ke jenjang yang tinggi dalam arti dapat meningkatkan kualitas SDM. Keputusan yang diambil oleh para lembaga pendidikan khususnya PTN adalah tepat, tetapi disisi lain seiring meningkatnya jumlah masyarakat dalam kondisi ekonomi terbawah maka makin banyak pula yang tidak dapat menerima keputusan itu. Efeknya adalah banyak masyarakat putus sekolah dan itu menimbulkan efek besar bagi negara yaitu menurunnya kualitas SDM. Faktanya kualitas SDM adalah tiang kokoh untuk membangun sebuah bangsa.
Kedua dan sekaligus terakhir, pendidikan sangat penting bagi semua kalangan masyarakat negara ini. Pendidikan adalah jalan menuju suatu kemajuan dan ini adalah langkah awal. Akan tetapi, lepasnya peran pemerintah dalam menanggulangi semua masalah yang ada dalam pendidikan membuat makin buruknya penyelesaian masalah. Dalam hal ini adalah sosial. Tingkat sosial yang rendah saat ini memperburuk kedaan karena orang saat ini lebih cenderung memikirkan dirinya sendiri. Mereka acuh terhadap lingkungan karena baginya lingkungan adalah pelengkap sandiwara di dunia. Alangkah baiknya apabila banyak orang yang mampu dari segi ekonomi ingin membantu kalangan bawah untuk memberi subsidi hartanya dengan membantu masyarakat bawah membiayai pendidikan, efek dari itu semua dalam jangka panjang akan menghasilkan suatu perubahan yang dahsyat.
Inilah yang seharusnya kita lakukan sebagai warga yang bekerja sama dalam membangun pendidikan dan negara. Kita adalah brotherhood dimana saling membantu sama lain sesuai dengan asas kehidupan. Pendidikan bukanlah untuk kalangan bangsawan saja, tetapi proletar pun wajib mendapatkannya. Pendidikan bukan vitamin untuk segilintir orang, tetapi vitamin bagi seluruh rakyat
ada ide untuk menlong saya membantu mengeluarkan jeratan ini untuk negara saya...?
Selasa, 20 Juli 2010
Dari segi anggaran, Finlandia agak sedikit lebih tinggi dari negara lain — walau bukan yang tertinggi. Kegiatan sekolah juga hanya 30 jam per minggu. Tapi guru-guru di Finlandia adalah pilihan dengan kualitas terbaik. Untuk menjadi guru jauh lebih ketat persaingannya ketimbang melamar Fakultas Hukum atau Kedokteran. Guru juga diberi kebebasan dalam kurikulum, text-book, hingga metode pengajaran dan evaluasi.
Sistem pendidikan Finlandia memang unik. Remedial tidak dianggap sebagai kegagalan tapi untuk perbaikan. Orientasi dibuat untuk tujuan-tujuan yang harus dicapai. Penekanan ada di proses, bukan hasil. PR dan ujian tak musti dikerjakan dengan sempurna — yang penting murid menunjukkan adanya usaha. Ujian justru dipandang sebagai penghancur mental siswa.
Sejak awal, murid diajari bertanggung jawab mengevaluasi dirinya sendiri. Mereka didorong untuk bekerja secara independen. Guru tidak mesti selalu mengontrol mereka. Proses pembelajaran berjalan dua arah. Suasana sekolah boleh dibilang jadi lebih cair, fleksibel, dan menyenangkan. Namun efektif.
Guru juga tak pernah mengkritik murid yang justru dinilai membuat murid malu dan menghambat proses pembelajaran itu sendiri. Murid “boleh” berbuat kesalahan, namun guru akan memintanya untuk membandingkan dengan hasil sebelumnya. Memang tak ada sistem ranking di sini sehingga siswa merasa confident dan nyaman terhadap dirinya. Ranking dipandang hanya membuat guru berfokus pada murid-murid terbaik saja, bukan ke seluruh murid.
Finlandia sukses menggabungkan kompetensi guru yang tinggi, kesabaran, toleransi dan komitmen pada keberhasilan melalui tanggung jawab pribadi. Di Finlandia, perbedaan antara murid berprestasi baik dan murid yang kurang sangatlah kecil. Kata seorang guru di Finlandia, “Kalau saya gagal dalam mengajar seorang murid, maka itu berarti ada yang tidak beres dengan pengajaran saya!”
Sedangkan di Indonesia malah ada sejumlah guru dan kepala sekolah yang dengan bangga tidak menaikkelaskan anak didiknya. Gagal mendidik kok bangga.
Pendidikan di Indonesia
Menikmati pendidikan belasan tahun di Indonesia membuat saya miris. Penilaian berorientasi hasil, bukan proses. Pembinaan mengabaikan EQ dan SQ. Isinya hafalan, cara cepat membabat soal, dan “ilmu” yang ketika diingat malah makin membuat lupa — tanpa penekanan soal pemikiran kritis dan pembentukan sikap mental positif. Trilogi dasar aspek pendidikan kognitif-psikomotor-afektif (sengaja?) diabaikan.
Di Indonesia, kualitas guru di Indonesia juga masih (maaf) memprihatinkan. Lulusan sekolah menengah yang jempolan biasanya lari ke tempat yang mentereng: Ilmu Kedokteran, Teknik, Ekonomi, dan sebagainya. Praktis, mereka yang masuk Ilmu Pendidikan adalah “sisa” yang gagal bersaing masuk ke jurusan elit.
Contoh lain adalah UAN yang baru saja lewat beberapa waktu lalu. Sesuai PP 19/2005, UAN adalah indikator kelulusan. Namun banyak yang menilai UAN tak bermanfaat karena hanya mengkondisikan penyelewengan — demi anak didik dan sekolah terangkat citranya. Guru, kepala sekolah, dan bahkan pejabat daerah terlibat jadi tim sukses. Passing grade ditetapkan, tapi sarana, prasarana, dan sumberdaya belum terkondisikan. Begitu hasil jeblok, segala cara agar murid lulus, bukan dengan introspeksi. We want to look good, but didn’t want to be really good.
Sebagian menyayangkan jerih payah tiga tahun hanya ditentukan dalam tiga hari. Banyak murid cerdas diterima SPMB Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru, tapi gagal dalam UAN. Murid cerdas justru terbebani mentalnya. Apalagi, andaikata tak lulus, mereka musti mengulang Paket C yang prestisenya kalah jauh. Dorongan belajar pada akhirnya justru sulit dibangkitkan dan hasil maksimal mustahil diperoleh.
Di sisi lain, kualitas pendidikan memang sedemikian rendahnya. Dengan passing grade yang cukup rendah dibanding negara tetangga, masih banyak juga yang tidak lulus. Ketika ada wacana untuk menaikkan standar, protes di sana-sini. Solusinya? Mungkin kembalikan saja ke sistem Ebtanas lama yang dirasa lebih “fair” dan tidak mengundang banyak masalah — sembari menunggu format UAN yang benar-benar pas buat negeri ini.
Atau, sebelum UAN, misalnya sekolah mengadakan seleksi intern sehingga hanya benar-benar murid yang siap yang bisa mengikuti UAN. Atau, UAN dilakukan dengan beberapa passing grade: yang nilainya sekian bisa mendaftar S1, yang sekian hanya bisa mendaftar diploma, yang kurang bisa mengulang tahun depan. Di Singapura, hanya murid tertentu yang qualified yang bisa lanjut S1, sementara sisanya masuk ke program diploma/poltek (atau TAFE kalau di Australia).
Atau, mencontek di negara maju, murid yang lulus UAN mendapat ijasah UAN, sementara yang tidak hanya memperoleh ijasah sekolah atau tanda tamat belajar. Di Inggris misalnya, setelah pendidikan wajib 16 tahun, murid bisa langsung kerja atau ambil A-Level selama dua tahun untuk persiapan kuliah. Di akhir program ada tes nasional dimana murid yang mendapat nilai A pada mata pelajaran utama bisa langsung masuk universitas favorit seperti Oxford, Cambridge, Imperial College, dan sebagainya.
Yang jelas, jika KBK/KTSP diterapkan, kita semua musti konsisten. Evaluasi harus berdasarkan proses. UAN tak perlu dipaksakan sebagai penentu kelulusan. Tapi sejauh mana kesiapan kita (terutama di daerah) untuk menerapkannya? Itu PR kita bersama.
Conclusion
Asumsikan 1 persen dari jumlah warga negara adalah jenius, maka “seharusnya” ada 2,2 juta orang berbakat di Indonesia. Masalahnya, bagaimana menemukan mereka, mengasah mereka, memberi mereka kesempatan, supaya mereka bisa mengembangkan potensinya. Indonesia bagus di fisika dan matematika. Indonesia juga jagoan badminton. Ada juga Crhisjon yang jago tinju. Ada juga anak pedagang rokok yang meraih juara dunia catur. Ada juga yang bisa menemukan ion motion control di elektrolit. Patut disayangkan mengapa pemerintah masih cuek dan belum piawai dalam mengasah intan mutu manikam.
Hipotesis sementara saya, pendidikan informal (dalam hal ini keluarga) masih jadi unsur terpenting untuk membentuk pribadi yang unggulan selama pemerintah belum mampu membangun sistem pendidikan yang benar-benar mumpuni. Keluarga jugalah yang jadi benteng melawan budaya instan dan pengaruh negatif lingkungan. Dan hipotesis alternatif saya, murid-murid SMP-SMA tak seburuk yang ditulis di media. Pengaruh 18.00-21.00 yang jauh lebih kuat daripada masa studi 7.00-13.00 juga jadi salah satu faktor yang mendistorsi kualitas mereka sebenarnya. Wajar kalau di Finlandia, sewaktu istirahat para guru dan muridnya bermain LEGO robotic. Sementara di Indonesia, murid-murid lebih suka ngerokok, pacaran, atau tawuran sewaktu istirahat.
Anyway, sekadar cerita di sebuah rumah sakit umum di Los Angeles, ada dua kamar bersalin yang saling bersebelahan. Yang satu adalah kamar VIP sementara kamar di sebelahnya kelas ekonomi dimana pasiennya negro. Hebatnya, semua diperlakukan dengan standar yang sama. Dokter dan suster melayani dengan tulus, menyambut kelahiran dengan bahagia, dan langsung menguruskan dokumen kelahirannya. Pemerintah federal juga memberikan susu dan makanan bayi selama 3 tahun. Kata mereka, “orang tuanya sih boleh miskin dan uneducated, tapi si jabang bayi ini nggak boleh miskin dan nggak boleh uneducated.”
Terkadang, kembang di kebun tetangga memang lebih pink. Dan bini tetangga juga lebih sip. Loh :D
[ BC Blog Competition – KE]
Senin, 21 Juni 2010
Dan aku percaya pada kemampuan,pada kemapuan dan ilmu yang kumiliki dan diberikan oleh-NYA, aku dapat mengalahkan semua itu walaupun butuh waktu.Dan sekarang waktu untuk membuktikan semua itu hanya dalam hitungan hari,dan aku harus terus berlatih untuk mengassah kemampuanku itu agar aku benar-benar siap untuk menghadapinya.Dan aku harus mengantisipasi segala kemungkinan yang dapat hadir dalam menghadapi ini.
Aku percaya semua yang kulakukan ini tidak ada yang sisa-sia dan semua itu terbaik bagiku.Sekarang aku sudah berada di ujung jalan untuk sampai di tujuan.Aku harus hati-hati agar aku tidak terjatuh untuk yang kedua kali.Aku harus benar-benar focus terhadap apa yang kukejar.Aku megejar teman-temanku yang sudah jauh meninggalkan aku.
Sudah tak ada waktu lagi untuk berhenti sejenak.Aku harus memacu kedaraanku agar aku mampu mencapai tujuanku dengan syarat kehati-hatian.Dan hanya ini kata-kata yang kurangkaikan,karena aku harus membuktikan pada semuanya……
Sehari setelah aku melewatkan apa yang menjadi penentu dalam hidupku,aku siap menghadapi semua yang terjadi karena ini adalah ketentuan-NYA.Aku harus yakin apa yang kudapat pasti yang terbaik bagiku,tetapi hatiku tetap optimis pada pilihanku.Aku ingin semua temanku yang mengalami hari-hari seperti aku setelah tes pada hari minggu kemarin akan mengubah kehidupan mereka.
Karena aku dan mereka adalah manusia pilihan-NYA yang mungkin diberi jalan kebenaran lewat semua yang kami alami dan di sini kami semua bahagia.Tak ada rasa gundah,sesal,dan kecewa terhadap pilihan yang kami pilih karena kami yakin terhadap hati nurani kami semua.Apa yang kami pilih itu yang akan kami lakukan untuk mendapatkan semuanya.
Aku tetap percaya dengan pilihan aku – semua yang menyangkut hidupku – karena aku yakin semua harus di dapat dengan usaha.
Untuk kisah cintaku,aku berharap dia adalah wanita pilihanku yang tepat,tetapi aku belum berpikir untuk lebih jauh lagi.Aku harus menutut ilmu dan menggapai semua cita-citaku yang telah aku impikan.Aku yakin DIA akan mempertmukan aku dengannya walaupun dia jauh dariku. Aku harus mendapatkan wanita yang benar- benar mengerti keadaanku.
Aku mempunyai banyak janji yang harus aku tepati dan itu butuh waktu untuk melunaskan semua.
Senin, 31 Mei 2010
“Malangnya pendidikan bangsaku”
Pendidikan adalah sebuah kata yang tak asing kita dengar saat ini. Sejak zaman politik etis ala Van Deventer, pendidikan, di negeri ini, mulai didengung-dengungkan. Pada saat itu pendidikan dianggap sebagai alat balas jasa atas penjajahan yang telah dilakukan di negeri yang kaya akan rempah. Entah apa arti itu etis atau tidak untuk memaknai kata pendidikan yang sesungguhnya, pendidikan tetap berkembang di Negaraku hingga saat ini. Aku ingin menggambarkan betapa hebatnya pendidikan di bangsaku dalam tulisan ini. Sebelumnya, aku ingin berterima kasih kepada para pejuang pendahulu yang telah mewarisi pendidikan kepada kita saat ini. Perjuangan mereka tidak akan pernah sebanding dengan apapun. Kembali ke hal utama dan satu hal yang sangat kontras, pendidikan terlihat sangat miris untuk kondisi saat ini. Pendidikan di Negara ini sudah tidak mengenal apa itu keadilan, kesetaraan, dan kebersamaan. Slogan yang tepat untuk pendidikan saat ini, khususnya di negeri ini, adalah “Anda Mampu? Silahkan masuk”. Slogan diatas menggambarkan betapa keadilan dibuang jauh-jauh dari makna pendidikan di negeri ini, Indonesia. ada sedikit penjelasan tentang slogan di atas agar mempermudah pembaca dalam memahami maknanya. “Anda Mampu?.....” , kata “mampu” disini bermakna sistem pembayaran operasional untuk pendidikan—kita ambil contoh Perguruan Tinggi Negeri (PTN)—sangatlah berpacu kepada uang. Mereka (penikmat pendidikan) memiliki uang dan sanggup membayar sesuai dengan ketetapan PTN yang dipilih maka mereka adalah calon terpilih. Untuk arti kata “…Silakan Masuk” , lebih mengutamakan kata masuk, kata ini bermakna setelah PTN menyeleksi dan mendapatkan calon mahasiswa yang rela membayar sesuai dengan ketetapan PTN maka dia akan menikmati proses belajar-mengajar di dalam PTN tersebut. Kembali ke hal utama, pendidikan di negeri ini sudah bertolak belakang dengan asas pendidikan dimana asas yang semestinya dijunjung tinggi dan dibela untuk kepentingan bersama. Kenapa penulis dapat mengatakan asas pendidikan sudah hilang dari makna pendidikan? banyak hal terjadi saat ini karena alasan tersebut. Penulis mengambil contoh anak yang lebih memilih bekerja daripada untuk melanjutkan pendidikannya ke Perguruan Tinggi setelah lulus dari SMA. Penulis sebelumnya meminta maaf karena tidak dapat melampirkan jumlah anak yang lebih memilih untuk bekerja daripada menlanjutkan pendidikan ke Perguruan Tinggi dengan alasan dalam tulisan ini lebih menekankan alasan yang menyebabkan mereka memilih itu semua. Semua jawaban dari masalah itu terletak pada sistem pendidikan di Negara ini. Pihak yang bertanggung jawab telah lepas tangan terhadap perubahan drastis yang terjadi. Alasan apa yang menyebabkan mereka lepas tangan dari masalah ini semua.
Pertama, kondisi ekonomi Negara yang sedang mengalami resesi akibat krisis ekonomi global. Kita tidak dapat pungkiri efek dari krisis ekonomi global sangat mempengaruhi siklus ekonomi Negara ini. Entah alasan apa yang membuat ekonomi kita terkena efek itu. apa karena kita terlalu berklibat pada sistem ekonomi negeri kapitalis itu atau tidak, tak satupun ahli ekonomi kita dapat menjawabnya. Krisis ekonomi menyebabkan beberapa perusahaan mengalami depresi dalam keuangannya, bahkan pendidikan pun terkena imbasnya. Inilah yang menyebabkan banyak institusi pendidikan melepaskan diri dari tuntutan itu dan berkiblat pada mencari keuntungan semata. Hal inilah yang meyebabkan rakyat di negara ini tidak sanggup melanjutkan ke jenjang yang tinggi dalam arti dapat meningkatkan kualitas SDM. Keputusan yang diambil oleh para lembaga pendidikan khususnya PTN adalah tepat, tetapi disisi lain seiring meningkatnya jumlah masyarakat dalam kondisi ekonomi terbawah maka makin banyak pula yang tidak dapat menerima keputusan itu. Efeknya adalah banyak masyarakat putus sekolah dan itu menimbulkan efek besar bagi negara yaitu menurunya kualitas SDM. Faktanya kualitas SDM adalah tiang kokoh untuk membangun sebuah bangsa.
Kedua dan sekaligus terakhir, pendidikan sangat penting bagi semua kalangan masyarakat negara ini. Pendidikan adalah jalan menuju suatu kemajuan dan ini adalah langkah awal. Akan tetapi, lepasnya peran pemerintah dalam menaggulangi semua masalah yang ada dalam pendidikan membuat makin buruknya penyelesaian masalah. Dalam hal ini adalah sosial. Tingkat sosial yang rendah saat ini memperburuk kedaan karena orang saat ini lebih cenderung memikirkan dirinya sendiri. Mereka acuh terhadap lingkungan karena baginya lingkungan adalah pelengkap sandiwara di dunia. Alangkah baiknya apabila banyak orang yang mampu dari segi ekonomi ingin membantu kalangan bawah untuk memberi subsidi hartanya dengan membantu masyarakat bawah membiayai pendidikan, efek dari itu semua dalam jangka panjang akan menghasilkan suatu perubahan yang dahsyat.
Inilah yang seharusnya kita lakukan sebagai warga yang bekerja sama dalam membangun pendidikan dan negara. Kita adalah brotherhood dimana saling membantu sama lain sesuai dengan asas kehidupan. Pendidikan bukanlah untuk kalangan bangsawan saja, tetapi proletar pun wajib mendapatkannya.
Senin, 03 Mei 2010
Wanted : Mars…Dead or Alive?
A discussion that is unique for this years. The scientists to look for new place for new live, because they are believe that no time ago the Earth will have destroyed. So, the scientists must hard think where the new right place. They are argue that is mars is only one place to the right place. Why ? because Mars have stucture that equal with Earth. That look in Mars, there are flow rivers but not function. The scientists believe it that Mars had aquifers water in underground for live. In contrast, the scientists haven’t found one more element for live like Oxygen. They argue that for find the element, they need time 15-20 years. But in fact, are they can find the element for live in Mars.
My oppinion :
According to article, the research about find the new place for new live that is good. The scientists efforts for new live, but time and money that they used to for research wiil more than advantages for the reborn environtment of Earth. Why? Instead time and money only find element for live in Mars no advantages for human. I think we all effort reborn environment of Earth such as reduce the pollution with time and money. So, I think this activities is more advantages for human life.
Kamis, 15 April 2010
kisah
Lusuh, keruh, pucat
Tak satupun asa datang mendekat
Bersaksi apa yang menjadi saksi
Menghasilkan buih sendiri
Keluh yang selalu hadir
Menjadikan seorang teman
Teman yang setiap saat hadir
Menolong diri ini dalam mencari penat
Setitik cahaya mampu membawaku ke dalam duniaku
Walapun itu redup
Walaupun itu tak secerah cahaya hatimu
Cahaya itu terus menuntunku
Menuntunku menuju anganku
Mendampingiku hingga aku mampu berdiri tegar
Cahaya itu pun yang selalu memberiku kekuatan
Cahaya itu pun yang membalutku untuk selalu bergerak
Bergerak menuju mimpiku
Ini jalanku…
Ini ruangku…
Ini tempatku…
Dan ini berkahku…
Jumat, 26 Maret 2010
huff...terkadang merasa lelah terhadap apa yang aku pikul.....
mungkin ini jalan yang harus aku jalani untuk mencapai semua yang aku inginkan
ya,,, mimpiku masih teramat jauh dari pandanganku, tetapi akuyakin aku bisa meraih apa yang aku telah tanamkan pada pikiranku......
menjadi ahli ekonomi di dunia, dan aku harus banyak mencari pengalaman untuk semua itu
Minggu, 14 Februari 2010
Minggu, 24 Januari 2010
Bernaung di bawah semua keputusasaanku
Terkurung akibat lemahnya diri ini dalam menjalani hidup
Sayapku entah kemana
Bahkan diriku pun tak tahu
Aku pun resah dengan apa yang ada pada saat ini
Apakah aku mampu mengubah semuanya ?
Tak ada lagi harapan
Tak ada lagi semangat yang selalu bersama jiwaku
Hanya rajuk yang ada
Kesal, bosan, dan jenuh dengan semua yang terjadi
Peluhku pun mengiring perjalananku
Hanya nur yang ku mohon dariMU
Nur yang mampu mengangkat diriku terbang seperti dulu
Nur yang selalu menemaniku
Nur yang tetap ada di saat gelap
Nur yang selalu setia
Saat itu yang kutunggu dalam hari-hariku
Sampai saat ini pun..........
Hanya waktu yang akan memberikan jawabnya
Entah kapan, biarlah mengalir
Seperti aliran darahku yang tak pernah sempurna
Seperti aliran mataku yang tak kunjung datang
Pagi yang mungkin dimana kita mulai mengukir sesuatu yang indah
Pagi yang mungkin dimana kita melangkah untuk jadi yang lebih baik
Pagi yang akan menjadikan kita selalu bersama untuk selamanya
Pagi yang disinari sang matahari dan dinaungi oleh semangat
Apakah yang sekarang akan kita lakukan untuk semua
Jangan berpikir semua berlalu dengan begitu
Banyak bekal dan ilmu yang belum kita pahami
Untuk itu pahamilah setiap sudut bumi ini
Yang banyak menyimpan misteri yang belum kita ketahui
Dan jadikan panasnya matahari ini sebagai kendaraan yang membawa kita
Dan angin menjadi penunjuk jalannya
Serta diri kita yang tak akan pernah mati untuk ini........
Karena naungan-Nya akan selalu ada di dekat kita
Tak pernahkah kau berpikir apa yang Dia inginkan selalu terwujud
Dan tak pernah juga kau ingat apa yang kita mau kita minta kepada-Nya
Seperti kekasih contohnya........
Kekasih adalah titipan-Nya yang di jadikan teman hidup kita
Menurutku itu adalah anugerah yang indah
Tapi banyak hanba-Nya yang tak bersyukur atas apa yang diberi-Nya
Mereka tak mengerti apa yang dinamakan Cinta
Mereka tak paham hati yang sedang dinaungi cinta
Mereka hanya paham luarnya saja,tanpa isinya
Mereka tidak akan mau dan tak pernah mau
Untuik mencari isinya
Karena mereka tidak tahu betapa indah isinya
Isi yang apabila dimengerti oleh keduanya akan muncul kebahagian
Kebahagian yang tak ternilai harganya
Kebahagian yang takkan pernah terganti oleh apapun
Sekalipun oleh harta dan tujuh wanita tercantik di dunia
Karena kebahagian ini adalah hadiah dari-Nya
Jumat, 22 Januari 2010
apa yang ada di dalam diriku merisaukan aku
bersaksi dalam hidup yang penuh dengan tanya
berjalan dalam ketidakpastian yang dapat berubah seketika
merakit susah payah apa yang kita inginkan
aku...........
tidaklah sama dengan yang lainnya
dari sisi manapun, tapi aku tetap yakin dengan diriku
tak ada yang dapat ku raih apabila aku diam
aku harus terus bergerak
mendapatkan sesuai apa yang aku rencanakan
mengatur semua yang ada dalam diriku.......
Kamis, 21 Januari 2010
semoga semua ini cepat berakhir.
take the spirit
Rabu, 13 Januari 2010
aku beranjak besar dan dewasa. aku mengalami perubahan dalam diriku. hormon-hormon pertumbuhanku mulai merangsang tubuhku. aku mulai mengenal--apa yang banyak dipuja oleh manusia--cinta. duduk di bangku SLTP taj membuatku canggung, aku memiliki teman baru. disinalah aku mulai kerangkai mimpiku. akan tetapi, mimpiku tak setinggi yang ku bayangkan sekarang. yang ada pada saat itu dalam pikiranku adalah aku harus menjadi siswa terbaik di sekolahku. ya, SLTP Mutiara 17 Agustus memang sekolah swasta, tetapi disana sangat disiplin. aku banyak belajar tentang kedisiplinan dari sekolah ini. sekolah ini pula yang selalu membuatku bangun lebih pagi. disana aku menghadapi pelajaran baru dengan submenu yang baru pula.sejak kelas satu aku sudah menunjukan prestasiku dan saat itu pula aku mendapatkan gelar siswa teladan yang aku impikan dari awal-- terwujud.aku adalah manusia yang beruntung. dan itu aku sandang hingga aku lulus dari sekolah swasta itu. akan tetapi, cerita menariknya adalah mulai aku duduk di kelas 3, aku mulai mengenal cinta. aku suka terhadap adik kelaslu yang duduk di kelas 2. wanita yang kuanggap paling cantik di dunia-- aku tertular cinta monyet. apa yang kulakukan untuk dia adalah semua waktuku untuk belajar. ya, inilah perasaan anak muda yang jatuh cinta....hahaha
untungnya aku cepat sadar. saat itu ujian hampir dekat dan aku memutuskan untuk mengurangi waktu untuk dia. sampai akhirnya dia bosan kepadaku...hahaha . benar-benar cinta monyet.....
aku lulus dengan hasil yang memuaskan dan aku masuk SMAN I BEKASI. sekolah favorite di daerahku. setelah ini adalah klimaks dari cerita hidupku.