Jumat, 28 Januari 2011

You think you’ve got troubles now? Just wait till the newspapers get load of me in my underwear, Dr. Hammond. She flumbed with the buttons on the smock. I bet your wife will love it.
Bidadari Indonesia Timur
Pantai natsepa, Pantai Liang, Pantai Pulau Raja, dan Pantai Kaoko adalah salah satu contoh daearah wisata tak tersentuh yang ada di wilayah timur Indonesia. Pasir putih, ombak yang tenang, dan suasana yang damai merupakan kelebihan dari semua tempat dan daerah wisata lainnya di Indonesia Timur. Sayang seribu sayang, tempat itu tak pernah menjadi tempat tujuan utama wisata masyarakat Indonesia bahkan mengenalnya pun sulit. Entah apa yang membuat semua itu tidak pernah menarik perhatian masyarakat kita—yang lebih senang mengunjungi tempat untuk berbelanja. Ada beberapa faktor yang menyebabkan masyarakat kita lebih tertarik pada tempat belanja. Pertama, masyarakat mencari tempat yang mudah dijangkau (dekat) dan tidak berbiaya besar. Kedua, masyarakat melihat kemudahan transportasi untuk mencapai tempat. Ketiga, kondisi daerah sehingga dapat memberikan kenyamanan bagi pengunjung.
Padahal, banyak tempat di wilayah timur Indonesia sangat potensial apabila pemerintah Negara ini berniat untuk mengembangkan potensinya sebagai tempat rekreasi dan wisata—baik untuk wisatawan dalam negeri atau mancanegara. Dilihat dari segi ekonomi, sektor pariwisata sudah banyak dimanfaatkan Negara lain sebagai pemasukan devisa Negara yang berasal dari wisatawan mancanegara. Dari segi budaya, dengan banyaknya wisatawan mancanegara yang datang, kita dapat memperkenalkan budaya kita kepada mereka. Ini juga merupakan salah satu cara memperkenalkan Negara kita di kancah internasional. Ironisnya, pemerintah tetap acuh terhadap itu semua dan lebih mementingkan urusan lain. Salah satu contoh, akses untuk mengunjungi tempat yang elok nan indah itu sangatlah sulit. Kapal laut sebagai transportasi utama hanya sedikit dan sebenarnya sudah tak layak pakai. Contoh lainnya adalah saat para pengunjung tiba di daerah tujuan, penginapan di tempat sudah lengkap, tetapi yang membuat cengang adalah pemilik penginapan itu orang asing. Kita hubungkan lagi dengan sisi ekonomi, itu menimbulkan suatu proses pertumbuhan GDP, tetapi tidak menumbuhkan GNP untuk Indonesia. Secara perhitungan, GNP adalah GDP dikurangi dengan penghasilan orang asing di dalam negeri ditambah pendapatan WNI diluar negeri. Melihat ini, semakin banyak orang asing di negeri ini maka semakin kecil proporsi “kue” pendapatan untuk nasional. Seandainya pemerintah dapat mengatur masalah ini, setali tiga uang, pemerintah dapat memanfaatkan keindahan tempat wisata Indonesia timur bukan hanya menambah pemasukan untuk kas Negara dan menambah proporsi GNP Indonesia.
Untuk mengwujudkan semua ini, pemerintah sebenarnya tidak mengalami kesulitan serius. Ada beberapa langkah yang harus ditempuh untuk menjadikan potensi wisata menjadi mesin penghasil bagi Negara. Pertama, pemerintah harus menyediakan transportasi yang mendukung untuk mencapai daerah tujuan. Langkah awal ini sebagai penarik wisatawan agar mereka merasa lebih mudah untuk mencapai tempat tujuan wisata. Kedua, pemerintah harus memberikan pelayanan baik dengan pengelolaan penginapan yang memenuhi standar. Dengan ini, pemerintah menyediakan lapangan kerja untuk warga sekitar dan ini sekaligue menimbulkan efek berlanjut dengan berkurangnya pengangguran serta peningkatan pendapatan nasional. Langkah terkahir, pemerintah melakukan promosi secara gencar lewat media apapaun. Ayo kita harumkan nama bangsa lewat pariwisata!
“untuk memahami hati dan pikiran seseorang, jangan melihat apa yang telah dia raih, tetapi apa yang dia cita-citakan"(Kahlil Gibran 1883-1931)

Rabu, 26 Januari 2011

Sayap dan doa
Apa yang aku pikirkan sampai saat ini, aku tidak pernah tahu maknanya
Letih, lesuh, dan lelah tak pernah Nampak dariku
Aku merasakan yang berbeda sampai saat ini
Perbedaan itu timbul sejak semuanya berubah begitu saja
Andai ini sudah ketetapanNYA, aku tidak bisa merubahnya
Semu ini harus aku pahami karena keinginanNYA
DIA menginginkan aku berbeda
Tetapi aku tidak pernah paham apa itu
Sementara jalanku terus berliku
Aku tidak boleh merasa semua ini adalah beban
Ini alur ceritaku dan harus aku layani
Membuat sesuatu yang bahagia bagiku
Bahagia untuk aku, dia, dan semua hal baru yang akan aku dapatkan
Tidak panjang waktuku untuk semua itu
Saat ini dan esok sudah menantiku
Tak perlu bekal yang berlebih
Hanya keikhlasan dan kesabaran
Dalam mengepakan sayap dan doa…

Adrifaza Baraka, 15-01-2011

Jumat, 21 Januari 2011

Setiap hari lautan, gunung, dan bumi meminta izin kepada Rabbnya, “ Perkenankanlah aku melumat manusia. Sesungguhnya mereka menikmati rezeki-MU, tetapi mereka menyembah kepada selain-MU!” tetapi Allah berfirman, “ biarkan saja mereka begitu, kalau saja kamu yang menciptakan mereka, nisacaya kamu akan menyayangi mereka!”
“jika dahulu aku tak menegakan sumpah untuk sekolah setinggi-tingginya demi martabat ayahku, aku dapat melihat diriku dengan terang sore ini, sedang berdiri dengan tubuh hitam kumal yang kelihatan hanya mataku, memegang sekop menghadapi gunung timah, mengumpulkan napas, menghela tenaga, mencedokinya dari pukul delapan pagi hingga magrib, menggantikan tugas ayahku yang dahulu juga menggantikan tugas ayahnya. Aku menolak semua itu! Aku menolak perlakuan buruk nasib kepada ayahku dan kepada kaumku. Kini tuhan telah memeluk mimpiku. Atas nama harkat kaumku, martabat ayahku, kurasakan dalam aliran darahku saat nasib membuktikan sifatnya yang hakiki bahwa ia akan memihak kepada para pemberani. (andrea hirata).”

Senin, 17 Januari 2011

Sayap dan doa
Apa yang aku pikirkan sampai saat ini, aku tidak pernah tahu maknanya
Letih, lesuh, dan lelah tak pernah Nampak dariku
Aku merasakan yang berbeda sampai saat ini
Perbedaan itu timbul sejak semuanya berubah begitu saja
Andai ini sudah ketetapanNYA, aku tidak bisa merubahnya
Semu ini harus aku pahami karena keinginanNYA
DIA menginginkan aku berbeda
Tetapi aku tidak pernah paham apa itu
Sementara jalanku terus berliku
Aku tidak boleh merasa semua ini adalah beban
Ini alur ceritaku dan harus aku layani
Membuat sesuatu yang bahagia bagiku
Bahagia untuk aku, dia, dan semua hal baru yang akan aku dapatkan
Tidak panjang waktuku untuk semua itu
Saat ini dan esok sudah menantiku
Tak perlu bekal yang berlebih
Hanya keikhlasan dan kesabaran
Dalam mengepakan sayap dan doa…

Adrifaza Baraka, 15-01-2011
Lentera

Setajuk rangkaian cahaya redup
Tak berdaya bagaikan tegukan napas lelah
Lalu apa yang menyebabkan dia kukuh bagaikan karang?
Tak ada majik, tak ada apapun yang menyokongnya
Keberadaannya melebihi penari dengan latarnya
Rembulan dengan pekatnya malam
Tak ada yang mengira
Lentera mampu menerangi hamba yang sedang terpuruk
Bahkan lentera menuntunnya sampai bangkit
Bangkit menemukan jati dirinya
Ini sebuah kisah nyata pada anak muda
Semangatnya sempat hilang bagai tak ada arti lagi dia melangkahkan kaki
Terpuruk dalam lembah tak bernyawa
Menyentuh titik kulminasi terendah yang pernah ada
Menetap dan merasakan terjalnya alur hidup
Bukan diatas, tetapi sedikit kebawah
Belum…belum menyentuh titik terbawah
Tidak terbayangkan menyentuhnya apalagi berteman dengan suasananya
Keluh, kusuh, dan tak berwarna
Maka dia sempat berpikir adilkah dunia ini diciptakan
Mengapa ada si kaya dan ada si miskin
kenapa semua tidak diciptakan sama rata
maka pertanyaan ini tidak akan pernah terjawab, pikirnya
Ini yang terjadi, ini yang harus dihadapi
Tak dapat dipungkiri karena hal itu ada di depan mata saat ini
Pikirannya makin bimbang tak terarah
Tak ada satu pun catatan liar yang memberinya arah
Keluarga? Bukan solusi yang tepat untuk saat itu
Ingat untuk saat itu
Ini berkutat pada jati diri dan jiwa yang ada pada saat itu
Bagaimana dia mengontrolnya dan memberinya pemantik untuk hidup lagi
Sebenarnya hati dan jiwanya belum mati
Mereka hanya tidur untuk sementara
Tidur dengan mimpi yang membawanya tidak betah untuk meninggalkan mimpinya
Ketika semua itu dapat teratasi maka lain cerita
Kisahkan kembali semua, tetapi tak dari awal
Hanya melanjutkan dari cerita yang terpotong oleh mimpi
Mimpinya tidak bagus, tetapi bagus untuk melemahkan jiwa, Itu yang dialami olehnya
Saat ini jalannya mulai terang
Bukan nur yang diharapkan bukan pula rembulan menyentuh stupa
Hanya lentera
Ia pun tidak yakin awalnya karena ia pikir hanya akan menimbulkan kirana
Cerita berubah seketika ketika ia mencoba meyakini lentera itu
Ini keajaiban dari Yang Maha Kuasa
Tuntunan untuk merasakan lika liku hidupNYA
Alur ceritaNYA yang telah DIA buat untuk semua, khususnya pemuda ini
Dari ini semua ia merasakan betepa sulitnya belajar ilmu ikhlas dalam hidup
Sampai akhirnya ia mendapatkannya ilmu itu
Tetapi ternyata itu hanya dasar belum inti dimana menuntut yang lebih dahsyat lagi
Lentera yang menemani dia ternyata menuntunnya sampai ke tujuan
Dengan cahaya yang tidak melebihi 5 watt, lentera itu menjadi saksi bisu perjalanan pemuda itu
Bahkan sampai pemuda itu berdiri tegap tanpa ada rasa lelah lagi
Ini perjalanan yang tiada henti karena tatapa luas ke arah barat dari Negara ini
Baru saja ia rangkai
Mungkin perjalanan yang lebih melelahkan akan ia hadapi lagi di suatu saat nanti
Maka ia mencoba menjadikan ini semua tahap awal dari semua perubahan

Adrifaza Baraka, 6-01-2011

Jumat, 07 Januari 2011

Taman Laut di Raja Ampat
Mon Nov 22 0:33am

Oleh Amril Taufik Gobel

Siapa bilang di tanah Papua tidak ada objek pariwisata bahari yang memukau? Selama ini Papua lebih dikenal dengan eksotisme kebudayaannya yang sederhana serta sumber daya alamnya yang melimpah. Namun, datanglah ke Raja Ampat, dan nikmati keindahan terumbu karang, lengkap dengan biota laut menawan serta pemandangan bahari yang mengesankan.


Tak salah bila kemudian Putri Indonesia 2005 Nadine Chandrawinata menyatakan kekagumannya pada kawasan ini setelah melakukan penyelaman, merasakan sajian panorama bawah laut Raja Ampat yang sangat memikat. Penggemar snorkeling dan diving memang dijamin tidak akan kecewa. Sebaliknya, mereka bakal terpanggil untuk datang dan datang lagi.

Raja Ampat adalah pecahan Kabupaten Sorong, sejak 2003. Kabupaten berpenduduk 31 ribu jiwa ini memiliki 610 pulau (hanya 35 pulau yang dihuni) dengan luas wilayah sekitar 46.000 km2, namun hanya 6.000 km2 berupa daratan, 40.000 km2 lagi lautan.

Pulau-pulau yang belum terjamah dan lautnya yang masih asri membuat wisatawan langsung terpikat. Kepulauan Raja Ampat terletak di barat laut kepala burung Pulau Papua, dengan kurang lebih 1500 pulau kecil dan atoll serta 4 pulau besar utama, yakni Misol, Salawati, Bantata dan Waigeo. Inilah yang kemudian menjadikan Raja Ampat taman laut terbesar di Indonesia.

Wilayah ini sempat menjadi incaran para pemburu ikan karang dengan cara mengebom dan menebar racun sianida. Namun, masih banyak penduduk yang berupaya melindungi kawasan itu sehingga kekayaan lautnya bisa diselamatkan. Terumbu karang di laut Raja Ampat dinilai terlengkap di dunia. Dari 537 jenis karang dunia, 75 persennya berada di perairan ini. Ditemukan pula 1.104 jenis ikan, 669 jenis moluska (hewan lunak), dan 537 jenis hewan karang. Luar biasa!

Bank Dunia bekerja sama dengan lembaga lingkungan global menetapkan Raja Ampat sebagai salah satu wilayah di Indonesia Timur yang mendapat bantuan Coral Reef Rehabilitation and Management Program (Coremap) II, sejak 2005. Di Raja Ampat, program ini mencakup 17 kampung dan melibatkan penduduk lokal. Nelayan juga dilatih membudidayakan ikan kerapu dan rumput laut.

Khusus untuk Anda yang tidak tertarik dengan aktivitas menyelam, hamparan laut biru yang membiaskan keindahan langit, taburan pasir putih yang memancarkan kilaunya bagaikan mutiara, bisa dinikmati. Selain itu, masih ada gugusan pulau-pulau yang memesona dan flora serta fauna unik seperti cenderawasih merah, cenderawasih Wilson, maleo waigeo, beraneka burung kakatua dan nuri, kuskus waigeo, serta beragam jenis bunga anggrek.

Papua Diving di pulau Mansuar adalah salah satu resort terkemuka yang berada di kawasan ini. Wisatawan-wisatawan mancanegara penggemar selam betah selama berhari-hari bahkan sebulan berada di Raja Ampat menikmati keindahan yang ada di sana dan menginap di Papua Diving.


Maximillian J Ammer, warga negara Belanda pemilik Papua Diving Resort yang juga pionir penggerak wisata laut kawasan ini, harus mati-matian menyiapkan berbagai fasilitas untuk menarik turis dari mancanegara. Sejak memulai usahanya delapan tahun lalu, banyak dana harus dikeluarkan. Namun, hasilnya juga memuaskan. Setiap tahun resor ini dikunjungi minimal 600 turis spesial yang menghabiskan waktu rata-rata dua pekan.

Penginapan sangat sederhana yang hanya berdinding serta beratap anyaman daun kelapa itu bertarif minimal 75 euro atau Rp 900.000 semalam. Jika ingin menyelam harus membayar 30 euro atau sekitar Rp 360.000 sekali menyelam pada satu lokasi tertentu. Kebanyakan wisatawan datang dari Eropa. Hanya beberapa wisatawan asal Indonesia yang menginap dan menyelam di sana.

Pulau Kri, Waigeo, serta Misool juga menyiapkan resort buat pengunjung. Di pulau Misool ada Eco Resort yang dibangun dengan menerapkan prinsip-prinsip konservasi alam yang ketat. Ada kesepakatan dengan penduduk adat di sekitar wilayah tersebut untuk menjaga ekosistem terpadu yang disebut “No Take Zone” yakni melarang eksploitasi pengambilan apapun dari laut, mulai dari berburu kerang, telur penyu,sirip ikan hiu sampai hanya sekedar mencari ikan. Secara ekstrim, malah di eco resort ini mengharamkan penggunaan antiseptik karena limbah buangannya dikhawatirkan akan membunuh ekosistem terumbu karang di sekitarnya.


Beberapa resor menetapkan harga relatif mahal karena menyuguhkan fasilitas lengkap. Wisatawan dengan biaya terbatas juga dapat memanfaatkan resort milik pemerintah yang jauh lebih murah di daerah Waisai, ibu kota Raja Ampat.

Anda harus terbang dulu ke Bandara Domne Eduard Osok, Sorong, Papua, lalu langsung menuju lokasi dengan kapal cepat berkapasitas sekitar 10 orang yang tarifnya Rp 3,2 juta sekali jalan. Perlu waktu sekitar 3-4 jam untuk mencapai kawasan Raja Ampat khususnya ke Pulau Mansuar.

Untuk berkeliling pulau yang diinginkan, kita dapat menyewa speedboat kapasitas 10 orang dengan harga Rp 3-5 juta per 8 jam, tergantung kepandaian kita menawar. Kita juga bisa mengambil paket wisata dengan mengunjungi perkampungan untuk melihat tanaman dan hewan khas setempat seperti burung Cendrawasih.

Untuk masuk ke kawasan Raja Ampat, setiap orang harus membayar biaya masuk sebesar Rp 250 ribu untuk wisatawan domestik, dan Rp 500 ribu untuk wisatawan dari mancanegara. Sebuah pin bulat yang berfungsi seperti identitas ini akan kita terima, setelah membayar biaya tersebut.

Uniknya, pin ini berlaku untuk satu tahun, sejak 1 Januari hingga 31 Desember. Jadi jika dalam satu tahun itu kita bolak-balik mengunjungi Raja Ampat, hanya perlu membayar biaya masuk satu kali saja. Tentu saja pin tadi tidak boleh hilang dan harus kita kenakan sebagai tanda pengenal.
Doa Seorang Prajurit Bagi Puteranya


Tuhanku, bentuklah puteraku menjadi manusia yang cukup kuat untuk menyadari manakala ia lemah dan cukup berani untuk menghadapi dirinya sendiri manakala ia takut. Manusia yang memiliki rasa bangga dan keteguhan dalam kekalahan, rendah hati, dan jujur dalam kemenangan
Tuhanku bentuklah puteraku menjadi seorang yang kuat dan mengerti bahwa mengetahui dan mengenal diri sendiri adalah dasar dari segala ilmu yang benar.
Tuhanku, janganlah puteraku Kau bimbing pada jalan yang mudah dan lunak. Biarlah Kau bawa dia ke dalam gelombang dan desak kesulitan tantangan hidup. Bimbinglah puteraku supaya dia mampu tegak berdiri ditengah badai serta berwelas asih kepada mereka yang jatuh dan terpuruk.
Bentuklah puteraku menjadi manusia berhati bening dengan cita-cita setinggi langit. Seorang manusia yang sanggup memimpin dirinya sebelum dia memimpin orang lain. Seorang manusia yang mampu meraih hari depan, tetapi tak melupakan masa lampau. Setelah segala menjadi miliknya, semoga puteraku dilengakapi hati yang ringan untuk bergembira serta selalu bersungguh-sungguh namun jangan sekali-kali berlebihan.
Berikan kepadanya kerendahan hati, kesederhanaan, dan keagungan yang hakiki, pikiran yang cerah, dan terbuka bagi sumber kearifan dan kelembutan dari kekuatan yang sebenarnya sehingga aku, orang tuanya, akan berani berkata : “hidupku tidaklah sia-sia”( Douglas Mac Arthur—ditulis pada masa-masa paling sulit diawal perang pasifik—diedit dalam Ejaan Yang Disempurnakan)

Selasa, 04 Januari 2011

Masa lalu
Sekali tiba masa ketika
Dunia mewah gugur merata
Enyah sunyi murni indah
Tangn kasat kan merobek semua nan molek
Akan meremuk dan mencabik
Dan sajakku kelak pembungkus kacang
Prosa, puisiki sebagai pembungkus kopi
Dewi seni akan menangis
Namun hatiku rela
Melepasmua entah kemana
Walu hati tersa luka
Dunia adil sama rata
Penderitaan
Jiwa menangis diiris sedih
Bermuram durja penuh kesedihan
Jiwa tersedu menagis merintih
Badan terlukai penuh penderitaan
Bagai terdengar angin menderu-deru
Awan tebal begulung-gulung
Halilintar gemuruh bagai peluru
Semesa alam bagai berkabung
Tak ada kawam mengahapus gundah
Tak terdengar langakah awal berkandang
Sendirilah jiwa rasa tenggelam di air bah
Tidak terdengarkah orang menjalang
Hanya terdengar angin sepoi-sepoi
Di angkasa, dingin nan lebar
Adakah uluran tangan sang penolong
Atau hanya bisikan kata sabar dalam hati
Jiwamu sendiri kawanmu sekandung
Tuhan sendiri tempat berlindung
Supaya percaya ddan senantiasa
Bahwa segala penderitaan diri
Tak seberapa dengan penderitaan dunia ini
Bahwa segala penderitaan lambat laun akan hilang di hapus waktu
Senja dibalik kelambu
Kulihat indahnya matahari terbenam
Kudengar keluhan ombak ditangah terjerembab ombak karang
Kutatap sayatan sayap burung yang melayang
Di saat senja datang
Ditemani gemerincingnya lonceng
Beserta semangat yang tinggi
Untuk mencapai harapannya
Semua angannya
Tak banyak harapanku
Hanya ingin menjadi titik-titik awan di langit
Yang selalu menemani matahari
Dan tak pernah mengeluh terhadap panasnya terik
Andai semua itu dekat
Dekat bagai matamu yang ada di kepala
Harapan pasti mudah tercapai
Walau itu ada di balik kelambu
mimpi dan asa
kita seperti terbelenggu mimpi
yang kita bangun saat bulan paruh terang
simpul-simpulnya masal, menutup kisi-kisi hati dan pikiran
padahal langit belum lagi tinggi
dan angin belum berputar-putar arah
dan kita masih dapat melempar asa ke ujung cakrawala
mestinya kita berbagi rasa berbagi kata
mengubah mimpi dan asa menjadi nyata
3-01-2011 (Karsono H. Saputra)
Selamat pagi
Selamat pagi, sudahkah tuan baca Koran hari ini?
Apa komentar tuan tentang banjir dan bah dan tanah longsor dan gempa bumi di seluruh negeri?
Kuasa alam tuan bilang? Atau musibah? Alam mahabijaksana, tuan tahu itu
Kemarahan alam karena kesemana-menaan dan tuan selalu diam karena tuan juga punya kepentingan
Jadi, kini tuan mau cuci tangan dan pura-pura jadi pahlawan
Selamat pagi, sudahkah tuan baca Koran hari ini?
Apa pendapat tuan tentang penggusuran dan penertiban yang selalu dengan penindasan
Dimana kedudukan tuan? Kepentingan apa dan siapa yang tuan pertahankan?
Karena selama ini saya melihat pembangunan selalu menggusur orang miskin
Bukan menggusur kemiskinan
Apa pendapat tuan? Tuan selalu diam, ini yang kedua kalinya
Selamat pagi, sudahkah tuan baca Koran hari ini?
Apa pendapat tuan tantang pencurian, korupsi, penipuan, penggelapan dan akal-akaln yang dilakukan kelompok tuan? Tuan tidak tahu atau pura-pura tak tahu?
Atau tuan malu karena tuan diam-diam berbuat seperti itu? Pantas saja kalau begitu
Tuan selalu diam kalu ditanya, ini kesimpulan sementara dari saya
Selamat pagi tuan, terlalu banyak hal yang buruk yang sebenarnya tuan ketahui tetapi tuan tak melakukan apa-apa atau tak berani melakukan apa-apa
Kenapa? Karena kepala, tangan, kaki, dan hati tuan tergadai oleh hasrat dan keninginan tuan atau bahkan anak dan istri tuan juga melakukan hal yang sama
Jadi apa yang seharusnya aku katakana kepada negeri yang luas ini
Rakyat yang masih terlonta-lonta dengan hidup hanya mengejar harta
Sekalipun bermodal pendidikan dasar atau anak buah tuan sendiri ada yang seperti mereka
Menghamba taka pa asal dapat bertahan hidup di metropolitan ini
4-01-2011
Putih hatimu
Dahulu, kau suka aster tidak wangi dan tidak terlalu indah, katamu
Tetapi warnanya adalah putih kasih
Helailan mahkotanya lambing keserdahanaan jiwa
Dan liat hidupnya ibarat perjuangan dan bertahan dalam segala keadaan
Kubilang, kau lebih pantas sebagai melati
Juga tidak terlalu indah bahkan hamper tak tampak
Tetapi keharumannya memenuhi persada
Tetapi kita tak perlu berselisih
Aster atau pun melati, putih warnanya adalah putih hatimu
4-01-2011 (Karsono H. Putra)
Bijaksana
Kata orang, bijaksana itu berpikir, bersikap, dan bertindak secara tepat pada tempat dan saat yang tepat. Namun, tepat menurut siapa? Menurut aku? Menurut kamu? Atau menurut kita? Atau masih harus ditentukan oleh keadaan? Bijaksana masih dapat diperdagangkan menurut selera dan harga yang disepakati
Kata orang, kita berada pada dataran lentur, luruh pada mau. Kata orang, kita berada dipenggal zaman edan. Berlomba pada kejahatan, yang terlambat tak kebahagian, tetapi kata orang, kebijaksanaan yang bijak menuntun kebahagiaan.
Kejujuran
Aku lebih banyak tinggal di kepala kanak-kanak atau bahkan orang bodoh
Aku tidak suka orang pintar karena mereka lebih sering mengejekku dengan manipulasi dan perekayasaan
Aku lebih dekat dengan orang miskin dan orang sederhana karena mereka selalu menerima apa adanya
Aku berada bersama rakyat jelata karena mereka tidak bicara mulut dan kepala tetapi bicara dengan rasa
Aku menghindati para penguasa karena mereka tak sama antara kata, rasa, kepala, dan cita
Dulu sekali
Aku sering menyelinap di hati nurani, tetapi kini makin sedikit orang yang memilikinya maka aku lebih banyak tersia-sia