Selasa, 04 Januari 2011

Masa lalu
Sekali tiba masa ketika
Dunia mewah gugur merata
Enyah sunyi murni indah
Tangn kasat kan merobek semua nan molek
Akan meremuk dan mencabik
Dan sajakku kelak pembungkus kacang
Prosa, puisiki sebagai pembungkus kopi
Dewi seni akan menangis
Namun hatiku rela
Melepasmua entah kemana
Walu hati tersa luka
Dunia adil sama rata
Penderitaan
Jiwa menangis diiris sedih
Bermuram durja penuh kesedihan
Jiwa tersedu menagis merintih
Badan terlukai penuh penderitaan
Bagai terdengar angin menderu-deru
Awan tebal begulung-gulung
Halilintar gemuruh bagai peluru
Semesa alam bagai berkabung
Tak ada kawam mengahapus gundah
Tak terdengar langakah awal berkandang
Sendirilah jiwa rasa tenggelam di air bah
Tidak terdengarkah orang menjalang
Hanya terdengar angin sepoi-sepoi
Di angkasa, dingin nan lebar
Adakah uluran tangan sang penolong
Atau hanya bisikan kata sabar dalam hati
Jiwamu sendiri kawanmu sekandung
Tuhan sendiri tempat berlindung
Supaya percaya ddan senantiasa
Bahwa segala penderitaan diri
Tak seberapa dengan penderitaan dunia ini
Bahwa segala penderitaan lambat laun akan hilang di hapus waktu
Senja dibalik kelambu
Kulihat indahnya matahari terbenam
Kudengar keluhan ombak ditangah terjerembab ombak karang
Kutatap sayatan sayap burung yang melayang
Di saat senja datang
Ditemani gemerincingnya lonceng
Beserta semangat yang tinggi
Untuk mencapai harapannya
Semua angannya
Tak banyak harapanku
Hanya ingin menjadi titik-titik awan di langit
Yang selalu menemani matahari
Dan tak pernah mengeluh terhadap panasnya terik
Andai semua itu dekat
Dekat bagai matamu yang ada di kepala
Harapan pasti mudah tercapai
Walau itu ada di balik kelambu
mimpi dan asa
kita seperti terbelenggu mimpi
yang kita bangun saat bulan paruh terang
simpul-simpulnya masal, menutup kisi-kisi hati dan pikiran
padahal langit belum lagi tinggi
dan angin belum berputar-putar arah
dan kita masih dapat melempar asa ke ujung cakrawala
mestinya kita berbagi rasa berbagi kata
mengubah mimpi dan asa menjadi nyata
3-01-2011 (Karsono H. Saputra)
Selamat pagi
Selamat pagi, sudahkah tuan baca Koran hari ini?
Apa komentar tuan tentang banjir dan bah dan tanah longsor dan gempa bumi di seluruh negeri?
Kuasa alam tuan bilang? Atau musibah? Alam mahabijaksana, tuan tahu itu
Kemarahan alam karena kesemana-menaan dan tuan selalu diam karena tuan juga punya kepentingan
Jadi, kini tuan mau cuci tangan dan pura-pura jadi pahlawan
Selamat pagi, sudahkah tuan baca Koran hari ini?
Apa pendapat tuan tentang penggusuran dan penertiban yang selalu dengan penindasan
Dimana kedudukan tuan? Kepentingan apa dan siapa yang tuan pertahankan?
Karena selama ini saya melihat pembangunan selalu menggusur orang miskin
Bukan menggusur kemiskinan
Apa pendapat tuan? Tuan selalu diam, ini yang kedua kalinya
Selamat pagi, sudahkah tuan baca Koran hari ini?
Apa pendapat tuan tantang pencurian, korupsi, penipuan, penggelapan dan akal-akaln yang dilakukan kelompok tuan? Tuan tidak tahu atau pura-pura tak tahu?
Atau tuan malu karena tuan diam-diam berbuat seperti itu? Pantas saja kalau begitu
Tuan selalu diam kalu ditanya, ini kesimpulan sementara dari saya
Selamat pagi tuan, terlalu banyak hal yang buruk yang sebenarnya tuan ketahui tetapi tuan tak melakukan apa-apa atau tak berani melakukan apa-apa
Kenapa? Karena kepala, tangan, kaki, dan hati tuan tergadai oleh hasrat dan keninginan tuan atau bahkan anak dan istri tuan juga melakukan hal yang sama
Jadi apa yang seharusnya aku katakana kepada negeri yang luas ini
Rakyat yang masih terlonta-lonta dengan hidup hanya mengejar harta
Sekalipun bermodal pendidikan dasar atau anak buah tuan sendiri ada yang seperti mereka
Menghamba taka pa asal dapat bertahan hidup di metropolitan ini
4-01-2011
Putih hatimu
Dahulu, kau suka aster tidak wangi dan tidak terlalu indah, katamu
Tetapi warnanya adalah putih kasih
Helailan mahkotanya lambing keserdahanaan jiwa
Dan liat hidupnya ibarat perjuangan dan bertahan dalam segala keadaan
Kubilang, kau lebih pantas sebagai melati
Juga tidak terlalu indah bahkan hamper tak tampak
Tetapi keharumannya memenuhi persada
Tetapi kita tak perlu berselisih
Aster atau pun melati, putih warnanya adalah putih hatimu
4-01-2011 (Karsono H. Putra)
Bijaksana
Kata orang, bijaksana itu berpikir, bersikap, dan bertindak secara tepat pada tempat dan saat yang tepat. Namun, tepat menurut siapa? Menurut aku? Menurut kamu? Atau menurut kita? Atau masih harus ditentukan oleh keadaan? Bijaksana masih dapat diperdagangkan menurut selera dan harga yang disepakati
Kata orang, kita berada pada dataran lentur, luruh pada mau. Kata orang, kita berada dipenggal zaman edan. Berlomba pada kejahatan, yang terlambat tak kebahagian, tetapi kata orang, kebijaksanaan yang bijak menuntun kebahagiaan.
Kejujuran
Aku lebih banyak tinggal di kepala kanak-kanak atau bahkan orang bodoh
Aku tidak suka orang pintar karena mereka lebih sering mengejekku dengan manipulasi dan perekayasaan
Aku lebih dekat dengan orang miskin dan orang sederhana karena mereka selalu menerima apa adanya
Aku berada bersama rakyat jelata karena mereka tidak bicara mulut dan kepala tetapi bicara dengan rasa
Aku menghindati para penguasa karena mereka tak sama antara kata, rasa, kepala, dan cita
Dulu sekali
Aku sering menyelinap di hati nurani, tetapi kini makin sedikit orang yang memilikinya maka aku lebih banyak tersia-sia