Jumat, 28 Januari 2011

Bidadari Indonesia Timur
Pantai natsepa, Pantai Liang, Pantai Pulau Raja, dan Pantai Kaoko adalah salah satu contoh daearah wisata tak tersentuh yang ada di wilayah timur Indonesia. Pasir putih, ombak yang tenang, dan suasana yang damai merupakan kelebihan dari semua tempat dan daerah wisata lainnya di Indonesia Timur. Sayang seribu sayang, tempat itu tak pernah menjadi tempat tujuan utama wisata masyarakat Indonesia bahkan mengenalnya pun sulit. Entah apa yang membuat semua itu tidak pernah menarik perhatian masyarakat kita—yang lebih senang mengunjungi tempat untuk berbelanja. Ada beberapa faktor yang menyebabkan masyarakat kita lebih tertarik pada tempat belanja. Pertama, masyarakat mencari tempat yang mudah dijangkau (dekat) dan tidak berbiaya besar. Kedua, masyarakat melihat kemudahan transportasi untuk mencapai tempat. Ketiga, kondisi daerah sehingga dapat memberikan kenyamanan bagi pengunjung.
Padahal, banyak tempat di wilayah timur Indonesia sangat potensial apabila pemerintah Negara ini berniat untuk mengembangkan potensinya sebagai tempat rekreasi dan wisata—baik untuk wisatawan dalam negeri atau mancanegara. Dilihat dari segi ekonomi, sektor pariwisata sudah banyak dimanfaatkan Negara lain sebagai pemasukan devisa Negara yang berasal dari wisatawan mancanegara. Dari segi budaya, dengan banyaknya wisatawan mancanegara yang datang, kita dapat memperkenalkan budaya kita kepada mereka. Ini juga merupakan salah satu cara memperkenalkan Negara kita di kancah internasional. Ironisnya, pemerintah tetap acuh terhadap itu semua dan lebih mementingkan urusan lain. Salah satu contoh, akses untuk mengunjungi tempat yang elok nan indah itu sangatlah sulit. Kapal laut sebagai transportasi utama hanya sedikit dan sebenarnya sudah tak layak pakai. Contoh lainnya adalah saat para pengunjung tiba di daerah tujuan, penginapan di tempat sudah lengkap, tetapi yang membuat cengang adalah pemilik penginapan itu orang asing. Kita hubungkan lagi dengan sisi ekonomi, itu menimbulkan suatu proses pertumbuhan GDP, tetapi tidak menumbuhkan GNP untuk Indonesia. Secara perhitungan, GNP adalah GDP dikurangi dengan penghasilan orang asing di dalam negeri ditambah pendapatan WNI diluar negeri. Melihat ini, semakin banyak orang asing di negeri ini maka semakin kecil proporsi “kue” pendapatan untuk nasional. Seandainya pemerintah dapat mengatur masalah ini, setali tiga uang, pemerintah dapat memanfaatkan keindahan tempat wisata Indonesia timur bukan hanya menambah pemasukan untuk kas Negara dan menambah proporsi GNP Indonesia.
Untuk mengwujudkan semua ini, pemerintah sebenarnya tidak mengalami kesulitan serius. Ada beberapa langkah yang harus ditempuh untuk menjadikan potensi wisata menjadi mesin penghasil bagi Negara. Pertama, pemerintah harus menyediakan transportasi yang mendukung untuk mencapai daerah tujuan. Langkah awal ini sebagai penarik wisatawan agar mereka merasa lebih mudah untuk mencapai tempat tujuan wisata. Kedua, pemerintah harus memberikan pelayanan baik dengan pengelolaan penginapan yang memenuhi standar. Dengan ini, pemerintah menyediakan lapangan kerja untuk warga sekitar dan ini sekaligue menimbulkan efek berlanjut dengan berkurangnya pengangguran serta peningkatan pendapatan nasional. Langkah terkahir, pemerintah melakukan promosi secara gencar lewat media apapaun. Ayo kita harumkan nama bangsa lewat pariwisata!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar